Layung Petang Bag. 2 : Djol
Sempat aku merasa jadi orang paling tak beruntung di dunia setelah kena fitnah. Sesuatu yang lebih kejam daripada pembunuhan itu terang-terang telah memposisikan jiwaku pada keterpencilan yang mengisolasionis dan bukanlah perkara main-main soal efek dari kekejaman fitnah itu. Karena, meski fitnah sudah menguap, kenyataannya aku terus saja dibayangi rasa khawatir yang amat sangat akan pandora yang pernah terbuka tak dapat tertutup lagi. Sebuah keputusan akhirnya jatuh dan jauh melangkahkan kami_aku dan Ikah_ke sebuah kampung terpencil demi memulai sebuah kehidupan baru. Masih kuingat jelas di malam pertama aku pernah singgah. Langit berkurik-kurik hujan, tak besar, namun tak pernah kosong dentum halilintar. Ketika meyentuh tanah, bumi seakan bergetar-getar. Dengan kilat yang menjilat-jilat, juga angin yang seakan mengamuk dari segala penjuru. Dunia, seakan penuh angkara murka karena aku telah berani meninggalkan kampung halaman karena masalah. Sesungguhnya ini bukanlah pelarian, s...