Layung Petang Bag. 1 : Bapak Berkumis Panglima
Selain bentuk ujian, baru-baru ini
kusadari masalah rupanya jadi semacam anasir yang justru menarik dalam
hidup. Uniknya masalah adalah selalu tak sama dan ia tak datang pada orang yang
tak sanggup menerimanya. Terlebih bagaimana tanpa masalah itu, bukankah hidup
akan membosankan saja?.
Jika masalah diartikan sebagai sesuatu
yang harus diselesaikan, maka, sesungguhnya belunjur nasib berutas karat telah
menuntutku untuk duduk meraut ranjau tegak meninjau jarak. Melansir dari kisah
seorang bapak berkumis panglima kemarin kiranya mampu_dapatlah dikatakan
begitu_memengaruhi cara pandangku atau pahamnya soal masalah itu dapat segera kuterima dan mungkin ini tak
lepas akan kemiripan ujian hidup diantara kami.
Menurut bapak berkumis lebat tak biasa
itu, hidup adalah selalu soal masalah dan baginya, masalah selalu terikat kait sebab
akibat. "Tak ada tindakan yang tak dapat memicu sebab, dan tak ada sebab
yang tak berujung akibat." Sangat diplomatis.
Mula aku duduk di bale-bale rombeng itu
sebenarnya merasa curiga. Kenapa gerangan langit cerah selatan tiba-tiba
menyuruhku berteduh. Dan bapak berkumis panglima itu muncul. Kira, merupakan sederet
rencana Tuhan untukku menjumpai masalah, masalah baru lebih tepatnya.
Pasalnya, selain dicegat hujan yang tak
kunjung reda, dalam keadaan menggigil kuyup, pemberhentian itu jadi semacam
jerembap untukku menjadi pendengar dungu dari segala ocehan berbusa-busa bapak
itu soal masalah-nya.
Ditambah saat hasrat dalam jiwa
pembicaranya mulai mencapai titik puncak, segeralah masalah dalam lingkaran
yang pada awalnya tampak sederhana jadi menguap, dan berubah wujud dalam bentuk
yang paling tak bisa kupahami di dunia ini: Ujian hidup. Sisi lain soal
ketidakmengertianku akan pemahaman tingkat milimeternya soal masalah itu justru
membuatnya balik curiga bahwa kiranya setiap anggukanku adalah tong kosong
saja. Lekas, diberondonglah aku dengan pepatah-petitih klasik membosankan akan
bagaimana hidup dapat mengalir seperti yang kita harapkan. Sambil memelintir
kumis panglima-nya ia mulai menyitir.
"Bukankah patut orang yang lulus
ujian dinaikkan pangkat-derajatnya?."
Aroma jeruk makan jeruk sudah dapat
kuhirup sedari awal bahwa ini memanglah ajang pentas biografi pribadi. Karena
usai bapak itu bertanya retoris, atau entah ia dapat dari mana sitiran itu,
bahkan, belum sempat kuanggukkan kepala demi tak membuatnya kecewa, ia sudah
yakin benar bahwa aku akan meng-iya-kan saja kalimatnya dan lekaslah ia
membelesakkan nilai-nilai empiris versi pribadinya sendiri kedalam telingaku
akan bagaimana orang yang berhasil lulus ujian hidup itu Tuhan bakal sepertikan
apa.
"Maksud bapak?," tanyaku mengerat.
Tak ingin aku dianggap angguk dungu saja.
"Hiiitttttt! Jangan pernah kau panggil
aku bapak! Tak sopan!."
Tak sopan bagaimanakah menurutnya?
"Lihat sekelilingmu! Kau pikir ini
dibangun dengan mudah saja, begitu?. Kau masih sangat muda!, jangan loyo jadi
orang!. Harus punya mimpi setinggi langit!. Ingatt... Setinggi langitt!. Jangan
mau kalah sama masalah!"
Emang ia tahu masalahku?
"Maksuu…"
"Kau ini paham apa tidak?! Tutup
kuping dablang kirimu itu dan dengarkan ini baik-baik, anak muda!. Kalau kau mau
tahu, dapur gergaji pita bisa seperti saat ini... itu... karena…"
"Bukan begitu maksudku, bbbbppp...
Kalau boleh tahu, siapakah gerangan orang yang telah berhasil lulus ujian hidup
itu?."
Bapak itu diam sejenak, tapi matanya
sirat akan kata. 'Show time!' Demikian kira-kira makna tatapan itu. Pilin
bagai kelindan, dan tepat dipelintiran terakhir pada kumis panglimanya_karena
memang sudah habis derat pelintir pada kumisnya itu_dapatlah segera kutahu
kemana sesungguhnya arah bicaranya ini.
Perlu digarisbawahi, amatlah
menggiriskan memang jika menelaah kisah hidup seorang bapak berkumis panglima
itu sebelumnya. Bagaimanapun_sesuai fakta yang telah ia kisahkan padaku, berkat
keteguhan hati dan penuh kepercayaannya pada teori dan realita bahwa dapat
sejalan, dan kombinasi tersebut dapat dimungkinkan oleh nalar manusia secara
sadar. Maksudku, jika ia berhasil lulus ujian dari Tuhan kala itu maka,
setelahnya, ia akan dinaikkan pangkat-derajatnya. Habis gelap terbitlah terang,
begitu kira simpulannya. Karena setelah kehilangan bapak-ibunya lantaran kena
santet beberapa waktu lalu. Katanya, sambil menepuk-nepuk dada:
"Tidakkah kau tahu siapa bos besar dapur gergaji pita ini?...
Diam, sunyi. Menggeleng-gelenglah aku
seperti monyet yang akan akan dibaluri reumashon
pantatnya.
"Nih.... Ini.. niihhh..!"
Oh, begitu mengagumkan pertunjukan ini.
Demikianlah maksudku, namun bagaimanapun, tak sanggup kubantah teori-nya itu
karena sepertinya memang benar ialah bos-nya. Maksudku soal perut buncit dan
ikat pinggang yang mencekik, juga soal kumis panglima yang jadi sumber dari
segala wibawanya itu dapat terpancar. Sangatlah membuktikan bahwa ia memang
raja diraja dalam pucuk pimpinan singgasana dapur mesin gergaji pita beratap
asbes ini. Pula, bukankah amat teoritis soal ujian hidup dan naik pangkat itu?
Komentar
Posting Komentar