Layung Petang Bag. 2 : Djol


Sempat aku merasa jadi orang paling tak beruntung di dunia setelah kena fitnah. Sesuatu yang lebih kejam daripada pembunuhan itu terang-terang telah memposisikan jiwaku pada keterpencilan yang mengisolasionis dan bukanlah perkara main-main soal efek dari kekejaman fitnah itu. Karena, meski fitnah sudah menguap, kenyataannya aku terus saja dibayangi rasa khawatir yang amat sangat akan pandora yang pernah terbuka tak dapat tertutup lagi. Sebuah keputusan akhirnya jatuh dan jauh melangkahkan kami_aku dan Ikah_ke sebuah kampung terpencil demi memulai sebuah kehidupan baru.

Masih kuingat jelas di malam pertama aku pernah singgah. Langit berkurik-kurik hujan, tak besar, namun tak pernah kosong dentum halilintar. Ketika meyentuh tanah, bumi seakan bergetar-getar. Dengan kilat yang menjilat-jilat, juga angin yang seakan mengamuk dari segala penjuru. Dunia, seakan penuh angkara murka karena aku telah berani meninggalkan kampung halaman karena masalah.

Sesungguhnya ini bukanlah pelarian, sama sekali bukan. Bukan pula soal tak sanggup menerima sesuatu setelah tertimpa sesuatu. Hanya seperti ucap Pak Moh dulu. "Aku hanya ingin berhijrah."

Dalam pada itu, karena tak dimungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, meski telah sampai di gapura kampung tujuan. Kami putuskan untuk berteduh di sebuah dapur mesin besar bergerigi dan jika pembaca ingin tahu, dapur mesin itulah yang nantinya akan meneduhi keluarga kecilku dari ganasnya tuntutan periuk belanga kehidupan.

Di samping dapur gergaji pita tersebut terdapat sebuah rumah. Gedong boleh dikatakan. Saat itulah untuk pertama kali kulihat seorang bapak berkumis panglima itu. Ia keluar, dan secuil kekhawatiran tampak meledak-ledak dalam dadanya setelah mendapati kami bersama seorang anak perempuan yang kuyup.

Ia balik masuk dan lekas memberi kami handuk bersama beberapa potong baju ganti untuk anak perempuanku itu. Namun karena sesuatu hal yang tak bisa kupahami soal fantasi dunia anak-anak jika bertemu orang asing, Falyata Lathofaku geming, gamang. Kemudian meninggalkan pangkuan ibunya dan lekas bersembunyi sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Melihat bapak itu, anakku seperti melihat hantu.

Setelah dirasa gagal membujuk kami untuk masuk gedongnya, atau mungkin karena tak ada kegiatan lain selain menunggu reda, di sebuah bale-bale ambang dapur gergaji pita itu kami mulai berbagi kisah. Tidak hanya dengan bapak itu, istrinya pun turut keluar dan menemani kami. Sebuah kesan baik segera memenuhi jiwaku akan keramahan keluarga ini dimana keramahan tersebut belum pernah kudapatkan dari seseorang yang belum pernah kukenal sebelumnya, meski tidak bagi Falyata Lathofaku.

Sejujurnya, meski pembawaan bapak berkumis panglima itu amat menyeramkan_tipikal garong, culas, penipu, perauk harta dengan siku. Namun sebagaimana orang berkumis demikian kebanyakan, bapak itu pandai sekali berkisah, mungkin berpidato lebih tepatnya. Diuntainya beberapa cerita pribadi dan kata ujian hidup itu melintas disana secara terang benderang bahwa belum lama ini ia telah mendapatkan ujian dari Tuhan. Ialah soal kehilangan kedua orang yang paling dicintainya itu dengan cara yang sangat mengenaskan.

Seperti kataku, mungkin karena ada kemiripan soal ujian hidup diantara kami, maka, maksudku, mulanya, pembicaraan malam itu amat terarah, sambut menyambut serasa seirama. Karena selain aku dipertontonkan dua karakter tak lazim_garong tapi ramah, sesuai tema kisah, rupanya bapak berkumis panglima itu juga punya sebongkah hati yang amat lembut. Lunak gigi dari lidah, begitulah istilahnya.

Semula anakku yang sama sekali tak ingin melihat wajah bapak itu. Namun setelah mengepal tangan kuat-kuat sambil meneteskan air mata kala berkisah soal almarhum bapaknya yang kena santet orang itu. Anakku, Falyata Lathofaku yang tahu apa soal ilmu fisiognomi dibuatnya jadi tak berkedip, bimbang, hingga tak jelas apa kesannya. Dengan menggenggam erat ujung dari simpul baju ibunya maka segeralah dapat kupahami akan bagaimana menggiriskannya ujian hidup seorang bapak itu. Bapak berkumis panglima itulah yang nantinya akan kukenalkan kepada kawan pembaca sebagai sesosok Djol. Seorang Djol yang akan marah besar jika dipanggil bapak. Dan sekali ia sudah bercerita, tak kenal alinea.

⌂⌂⌂

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Layung Petang Bag. 1 : Bapak Berkumis Panglima