Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Layung Petang Bag. 2 : Djol

Sempat aku merasa jadi orang paling tak beruntung di dunia setelah kena fitnah. Sesuatu yang lebih kejam daripada pembunuhan itu terang-terang telah memposisikan jiwaku pada keterpencilan yang mengisolasionis dan bukanlah perkara main-main soal efek dari kekejaman fitnah itu. Karena, meski fitnah sudah menguap, kenyataannya aku terus saja dibayangi rasa khawatir yang amat sangat akan pandora yang pernah terbuka tak dapat tertutup lagi. Sebuah keputusan akhirnya jatuh dan jauh melangkahkan kami_aku dan Ikah_ke sebuah kampung terpencil demi memulai sebuah kehidupan baru. Masih kuingat jelas di malam pertama aku pernah singgah. Langit berkurik-kurik hujan, tak besar, namun tak pernah kosong dentum halilintar. Ketika meyentuh tanah, bumi seakan bergetar-getar. Dengan kilat yang menjilat-jilat, juga angin yang seakan mengamuk dari segala penjuru. Dunia, seakan penuh angkara murka karena aku telah berani meninggalkan kampung halaman karena masalah. Sesungguhnya ini bukanlah pelarian, s...

Layung Petang Bag. 1 : Bapak Berkumis Panglima

Selain bentuk ujian, baru-baru ini kusadari masalah rupanya jadi semacam anasir yang justru menarik dalam hidup. Uniknya masalah adalah selalu tak sama dan ia tak datang pada orang yang tak sanggup menerimanya. Terlebih bagaimana tanpa masalah itu, bukankah hidup akan membosankan saja?. Jika masalah diartikan sebagai sesuatu yang harus diselesaikan, maka, sesungguhnya belunjur nasib berutas karat telah menuntutku untuk duduk meraut ranjau tegak meninjau jarak. Melansir dari kisah seorang bapak berkumis panglima kemarin kiranya mampu_dapatlah dikatakan begitu_memengaruhi cara pandangku atau pahamnya soal masalah itu dapat segera kuterima dan mungkin ini tak lepas akan kemiripan ujian hidup diantara kami. Menurut bapak berkumis lebat tak biasa itu, hidup adalah selalu soal masalah dan baginya, masalah selalu terikat kait sebab akibat. "Tak ada tindakan yang tak dapat memicu sebab, dan tak ada sebab yang tak berujung akibat." Sangat diplomatis. Mula aku duduk di bale-b...